Lampu merah ini menghentikan laju motorku, ditengah rintik hujan, kupaksakan membawa raga memuaskan keinginan untuk mencuci mata sekaligus menguras kocek. Begitu berjejal di perempatan ini, mobil pribadi, angkot “kuning”, beca, bajaj, motor dan sepeda, huh…berjubel.Semakin tidak nyaman dengan banyaknya anak jalanan. Semakin banyak saja yang orang berminat mencari rejeki di perempatan jalan. Beberapa pemuda dengan gitarnya dan alunan lagu band terhits, ada juga beberapa anak kecil dengan kayu kecilnya yang dilengkapi tutup botol yang sudah dilempengkan sambil membawakan lagu yang entah judulnya apa. Ada lagi beberapa perempuan yang usianya sudah pasti lebih dari 30 tahun, dengan kemocengnya membersihkan kaca mobil yang terpaksa harus berhenti diperempatan ini. Ada bapak tua yang dari jalannya nampak sudah renta, kali ini dia tidak membawa apa-apa hanya dengan menadahkan tangan mengharap ada yang mau mengisi telapak tangannya yang tertadah dengan uang kertas atau receh sekalipun. Inilah perempatan Sentra Antasari yang hampir berubah wajah menjadi tempat mangkal para anak dan orang-orang jalanan.
Tiba-tiba mataku tertuju pada seorang perempuan yang memeluk anaknya. Perempuan itu menurutku berusia 25 – 30 tahun, atau mungkin juga kurang dari itu, tapi bedak “dingin” yang menempel dengan semeraut diwajahnya membuat prediksi usianya jadi bertambah. Anak laki-laki yang dipelukknya kuperkirakan berusia 5 atau 6 tahun. Anak laki-laki itu nampak kurus, rambutnya kelihatan kemerahan, kakinya bertelanjang bersentuhan langsung dengan aspal jalan, bajunya nampak kotor dan kumal sekali.
Ditengah gerimis, tanpa memperdulikan rekan-rekan seprofesinya asik dengan lakonnya masing-masing, perempuan dan anak laki-laki itu hanya duduk di trotoar pembatas dua jalur jalan. Aku semakin tertarik memperhatikan apa yang sedang mereka lakukan. Si anak itu bergelayut didekapan ibunya, tangannya melingkar dileher ibunya,sepertinya dia menginginkan sesuatu dari ibunya, atau hanya sekedar bermanja-manja dengan ibunya, Entahlah… Sedang si ibu memeluk anak lelakinya sambil membelai rambutnya.
Saat itu naluri keibuanku terpanggil, aku langsung terbayang anakku, Azzam, saat ku tinggal dia sedang tidur dengan nyaman didalam sebuah kamar dilengkapi AC, dengan selimut yang membuatnya hangat dan telah kupastikan juga tak ada nyamuk yang bisa mengganggu tidurnya.
Aku semakin tertarik dengan tingkah ibu dan anak itu, tapi sayang jalan ini terlalu sempit dan tidak memberiku ruang untuk lebih dekat dengan trotoar itu. Aku tidak melihat atau mendengar langsung apa yang terjadi pada mereka. Tapi kali ini aku sempat menangkap senyuman ibunya dan si anak yang tertawa.Oh..ternyata mereka sedang bercanda diantara gerimis. Sepertinya mereka tidak perduli dengan lingkungan, dengan pengguna jalan yang seharusnya menjadi salah satu “mangsa” mereka, ataupun dengan rekan seprofesi mereka yang saling bersaing mencari recehan yang sangat berarti atau dengan diriku yang dari tadi menatap mereka.
Lamunanku tersentak,ketika klapson mobil dibelakang berteriak seakan meminta motorku berlari, agar mobil itu bisa turut berlari. Kulajukan motor menjauhi ibu dan anak tadi, tapi pikiranku masih belum beranjak dari mereka. Aku teringat anakku, kondisiku, kondisi ibu dan anak di perempatan tadi.
Kubayangkan seandainya aku dan anakku yang memerankan adegan di perempatan tadi, sanggupkah aku???? Dengan pikiranku sendiri, aku berbicara banyak dengan hati dan jiwaku sendiri, dan akhirnya aku memutuskan bahwa ibu tadi adalah ibu yang lebih hebat dibandingkan diriku.
Nampaknya aneh?? Dari mana aku menilai??
Selama ini aku merawat Azzam dengan setelaten yang bisa kulakukan. Azzam besar dengan kebiasaan yang bisa dibilang teratur, makan 4 kali sehari, jam tidur siang yang hampir tidak berubah setiap hari, jam mandi yang sudah pasti, jadwal main di luar rumah dan di kamar juga sudah ku set.
Untuk urusan keluar rumah Azzam tidak pernah kubawa naik motor sendiri, kalaupun naik motor maka harus bertiga, dan itupun jika cuaca tidak terlalu panas ataupun dingin, tidak kubiarkan dia tanpa jaket jika naik motor. Setiap selesai mandi, wajahnya selalu wangi dengan arama bedak baby dtambah parfum baby yang kusemprotkan di belakang lehernya. Jika sudah bersih begini, kubawa dia berjalan-jalan sekitar rumah tapi takku biarkan kakinya menyentuh tanah tanpa alas. Aku merasa hebat sudah memperlakukan buah hatiku seperti itu. Tapi ibu dan anak di perempatan itu membuatku sadar, bahwa dialah yang hebat.
”Seandainya aku yang melakonkan peran ibu dan anak tadi : ”
Aku takkan sanggup membiarkan anakku berada ditengah gerimis. Maka ketika kami harus keluar rumah dengan Azzam, abah Azzam pun harus rela mengantarkan kami dengan kendaraan beroda empat dan beratap.
Aku takkan sanggup membiarkan anakku berada ditengah trotoar karena aku sangat takut dia tertabrak mobil ataupun motor yang mungkin saja tidak sengaja tidak dapat mengendalikan laju kendaraan mereka. Maka ketika aku harus keluar rumah kupikirkan apakah tempat itu cukup aman untuk buah hatiku.
Aku takkan sanggup membiarkan anakku berada di jalan, tanpa tahu jam berapa dia bisa tidur siang dengan lelap. Bukan hanya itu kalau dia berada di jalan pasti makannya tidak teratur dan tidak bersih. Aku tidak akan biarkan dia menghitam atau kedinginan di jalan. Ah..aku tidak akan sanggup jika aku menjadi ibu itu. Hatiku terlalu rapuh melihat anakku harus berada di kerasnya kehidupan dijalanan.
Apakah hanya aku yang merasakan sepertiku, aku yakin tidak,semua ibu pasti mempunyai perasaan yang sama denganku ini, termasuk ibu di perempatan jalan tadi.
Ibu itu pasti tidak akan tega membiarkan hal buruk terjadi pada anaknya, aku yakin dia juga sangat menyayangi anaknya. Liat saja tadi, ibu itu nampak sangat erat memeluk dan membelai rambut serta punggung anaknya, mungkin juga sedang berusaha melindungi kepala anaknya dari rintik-rintik hujan. Pelukkan ibu itu bisa jadi sebuah rengkuhan terhadap semangat untuk tetap bertahan dengan kerasnya kehidupan jalanan yang harus mereka lewati, agar tidak cengeng didalam kekahwatiran yang berlebihan terhadap buah hatinya, seakan meyakini bahwa alam lah yang akan menjaga buah hatinya. Sedangkan dia akan tetap berupaya mendapatkan rejeki dari orang yang berlalu lalang di perempatan itu. Menghargai setiap receh yang dia dapatkan dan merayakan hasil yang didapat bersama buah hatinya, di perempatan jalan itu.
Jadi sekali lagi kusebutkan ibu diperempatan jalan itu lebih hebat dari aku yang terkadang masih saja tidak bisa mensyukuri keadaan, dan masih saja merasa kurang dan kurang dengan kondisi yang sebenarnya adalah zona ternyaman yang pernah kudapati dalam hidup.
Sampai pemikiran ini, aku sudah berada dipusat perbelanjaan. Keinginan untuk memuaskan mata dan menguras kantong kubatalkan, hanya kebutuhan primer yang ku beli dan ku bawa pulang. Tapi kali ini batinku seakan mendapat nutrisi baru, sebuah pencerahan, bahwa kita patut mensyukuri keadaan kita, bagaimana pun kondisinya, karena masih banyak yang lebih parah dari yang kita alami.

Wham bam thank you, ma’am, my questions are asnewred!